Selamat Datang di Situs Resmi "Belajar Al Qur'an & As Sunnah"

Puasa Sunnah 4


Hari- hari yang dilarang Berpuasa :
1. Dua hari raya : yaitu hari raya 'Iedul Fithri dan 'Iedul Adlha

عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ رض قَالَ: نَهَى النَّبِيُّ ص عَنْ صَوْمِ يَوْمِ اْلفِطْرِ وَ النَّحْرِ. البخارى 2: 249
Dari Abu Sa'id RA, ia berkata, "Nabi SAW telah melarang (orang) berpuasa pada hari raya 'Iedul Fithri dan hari raya Qurban ('Iedul Adlha)". [HR. Bukhari juz 2, hal. 249]
عَنْ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَنْهَى عَنْ صَوْمِ هذَيْنِ اْليَوْمَيْنِ، اَمَّا يَوْمُ اْلفِطْرِ فَفِطْرُكُمْ مِنْ صَوْمِكُمْ وَ عِيْدٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَ اَمَّا يَوْمُ اْلاَضْحَى فَكُلُوْا مِنْ لَحْمِ نُسُكِكُمْ. الترمذى 2: 135، رقم: 769
Dari Umar bin Khaththab, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah SAW melarang dari puasa pada dua hari raya. Adapun Iedul Fithri, maka itu adalah hari berbuka kalian dari puasa (Ramadlan) dan hari raya bagi orang-orang Islam. Dan adapun Iedul Adlha, maka makanlah daging ibadah qurban kalian. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 135, no. 769]

Baca selengkapnya »

Puasa Sunnah 3

Puasa Sunnah Menurut Tuntunan Rasulullah SAW

6. Puasa tiga hari pada tiap bulan (Qamariah)
عَنْ مُعَاذَةَ اْلعَدَوِيَّةِ اَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيّ ص: اَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَصُوْمُ مِنْ كُلّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ اَيَّامٍ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. فَقُلْتُ لَهَا: مِنْ اَيّ اَيَّامِ الشَّهْرِ كَانَ يَصُوْمُ؟ قَالَتْ: لَمْ يَكُنْ يُبَالِى مِنْ أَيّ اَيَّامِ الشَّهْرِ يَصُوْمُ. مسلم 2: 818
Dari Muadzah Al-Adawiyah bahwasanya ia bertanya kepada Aisyah istri Nabi SAW, Apakah Rasulullah SAW berpuasa tiga hari pada setiap bulan ?. Aisyah menjawab, Ya. Lalu aku bertanya lagi kepadanya, Pada tanggal berapa beliau berpuasa ?. Aisyah menjawab, Beliau tidak peduli tanggal berapa saja berpuasa pada bulan tersebut. [HR. Muslim juz 2, hal. 818]
عَنْ اَبِى ذَرّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ صَامَ مِنْ كُلّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ اَيَّامٍ فَذلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ. فَاَنْزَلَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالىَ تَصْدِيْقَ ذلِكَ فِى كِتَابِهِ. مَنْ جَاءَ بِاْلحَسَنَةِ فَلَه عَشْرُ اَمْثَالِهَا. اَلْيَوْمُ بِعَشْرَةٍ. الترمذى 2: 131، رقم: 759
Dari Abu Dzarr, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa berpuasa tiga hari setiap bulan, maka yang demikian itu sama dengan puasa sepanjang masa. Kemudian Allah Tabaaraka wa Taaalaa menurunkan ayat yang membenarkan hal itu dalam kitab-Nya. (Barangsiapa beramal baik, maka baginya pahala sepuluh kali lipat) [Al-Anaam : 160]. Puasa satu hari sama dengan sepuluh hari (pahalanya). [HR. Tirmidzi jz 2, hal. 131, no. 759]

Baca selengkapnya »

Puasa Sunnah 2

Puasa Sunnah Menurut Tuntunan Rasulullah SAW 


3. Puasa Tasu'a dan 'Asyura
Tasu'a ialah hari yang ke-9 dari bulan Muharram, sedang 'Asyura’ adalah hari yang ke-10 dari bulan tersebut.
عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ : كَانَتْ قُرَيْشٌ تَصُوْمُ عَاشُوْرَاءَ فِى اْلجَاهِلِيَّةِ وَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَصُوْمُهُ. فَلَمَّا هَاجَرَ اِلَى اْلمَدِيْنَةِ صَامَهُ وَ اَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ شَهْرُ رَمَضَانَ، قَالَ: مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَ مَنْ شَاءَ تَرَكَهُ. البخارى و مسلم و الترمذى و ابو داود و ابن ماجه و احمد و مالك و الدارمى
Dari Aisyah RA, ia berkata : Adalah kaum Quraisy berpuasa Asyura pada masa jahiliyah dan Rasulullah SAW juga berpuasa. Maka setelah berhijrah ke Madinah, beliau tetap berpuasa Asyura dan memerintahkan kepada para shahabat untuk berpuasa pada hari itu. Maka setelah diwajibkan puasa di bulan Ramadlan, lalu beliau bersabda, Barangsiapa yang ingin berpuasa Asyura silakan berpuasa, dan barangsiapa yang ingin meninggalkannya silakan tidak berpuasa. [HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Malik dan Darimiy]
عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ اَبِى سُفْيَانَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِنَّ هذَا يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ وَ لَمْ يُكْتَبْ عَلَيْكُمْ صِيَامُهُ وَ اَنَا صَائِمٌ. فَمَنْ شَاءَ صَامَ وَ مَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ. البخارى و مسلم
Dari Muawiyah bin Abu Sufyan, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya hari ini adalah hari 'Asyura tetapi tidak diwajibkan atas kamu puasa hari ini, sedang aku berpuasa. Oleh sebab itu, barangsiapa ingin berpuasa silakan berpuasa, dan barangsiapa ingin tidak berpuasa, silakan tidak berpuasa". [HR. Bukhari dan Muslim]

Baca selengkapnya »

Puasa Sunnah 1

Puasa Sunnah Menurut Tuntunan Rasulullah SAW


1. Puasa enam hari di bulan Syawwal
عَنْ اَبِى اَيُّوْبَ اْلاَنْصَارِيّ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ  ثُمَّ  اَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ. مسلم 2: 822
Dari Abu Ayyub Al-Anshariy, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa puasa Ramadlan lalu ia iringi dengan puasa enam hari dari Syawwal, adalah (pahalanya) itu seperti puasa setahun". [HSR. Muslim juz 2, hal. 822]
عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُوْلِ اللهِ ص عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص اَنَّهُ قَالَ: مَنْ صَامَ سِتَّةَ اَيَّامٍ بَعْدَ اْلفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ مَنْ جَاءَ بِاْلحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ اَمْثَالِهَا. ابن ماجه 1: 547
Dari Tsauban bekas budak Rasulullah SAW dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, "Barangsiapa puasa enam hari sesudah Hari Raya 'Iedul Fithri, adalah (serupa) sempurna setahun, (karena) barangsiapa mengerjakan kebaikan, maka ia mendapat pahala sepuluh kali ganda". [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 547]

Baca selengkapnya »

Tuntunan Aqiqah


Pengertian Aqiqah
Menurut bahasa Aqiqah berasal dari (عَقَّ-يَعُقُّ-عَقًّا) artinya : memotong. Dinamakan Aqiqah (yang dipotong), karena dipotongnya leher binatang dengan penyembelihan itu.
Ada pula yang mengatakan bahwa aqiqah itu asalnya ialah : Rambut yang terdapat pada kepala si bayi ketika ia keluar dari rahim ibu, rambut ini disebut aqiqah, karena ia mesti dicukur.
Adapun menurut istilah agama, yang dimaksud aqiqah ialah : Sembelihan yang disembelih sehubungan dengan kelahiran seorang anak, baik laki-laki ataupun perempuan pada hari yang ke tujuh sejak kelahirannya dengan tujuan semata-mata mencari ridla Allah.

Sejarah Aqiqah
Syariat aqiqah, yaitu menyembelih 2 ekor kambing jika anaknya laki-laki, dan seekor kambing jika anaknya perempuan, telah dikenal dan biasa dilakukan orang sejak zaman jahiliyah, namun dengan cara yang berbeda dengan yang dituntunkan oleh Nabi SAW bagi ummat Islam.

Baca selengkapnya »

Masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muththalib


Hamzah itu adalah seorang putera Abdul Muththalib. Jadi ia adalah saudara laki-laki (adik) dari Abdullah (ayah Nabi SAW). Tetapi dari lain ibu. Karena Abdullah dari ibu yang bernama Fathimah, sedang Hamzah dari ibu yang bernama Halah. Kedua ibu itu dari keturunan Quraisy juga. Sebab itu ia termasuk salah seorang dari paman Nabi SAW yang paling muda.
Pada suatu hari Hamzah pergi berburu, karena memang ia adalah seorang Quraisy yang gemar berburu. Pada waktu ia kembali dari berburu, tiba-tiba ditengah jalan ia bertemu dengan seorang budak perempuan, bernama Salma. Ia adalah budaknya Shafiyah binti Abdul Muththalib (saudara perempuan Hamzah) yang pada waktu itu Shafiyah sudah masuk Islam.
Budak perempuan itu memanggil Hamzah dan berkata : "Ya, Abu 'Amarah (sebutan bagi shahabat Hamzah) ! Jika tadi engkau mengetahui Abul-Hakam (Abu Jahal) menganiaya anak saudara tuan, pasti tuan sangat marah kepadanya".

Baca selengkapnya »

Masuk Islamnya Abu Dzarr Al-Ghifari


Abu Dzarr itu namanya yang asli ialah Jundab bin Junadah, dan ia adalah seorang kepala kabilah banu Ghifar. Kabilah ini letaknya disatu tempat yang jauhnya dari Makkah perjalanan kurang lebih 30 hari. Pada waktu itu ia mendengar berita bahwa di kota Makkah ada seorang laki-laki dari keturunan Quraisy yang mengaku menjadi Nabi serta Rasul Allah, maka ia pun mengutus saudara laki-lakinya (adiknya) yang bernama Anis, untuk pergi ke Makkah menyatakan betul atau tidaknya berita itu.

Ia berkata kepada adiknya : "Pergilah kamu ke lembah (kota Makkah) dengan kendaraan onta ini, setelah sampai di sana hendaklah kamu datang kepada orang yang mengaku menjadi Nabi serta Rasul Allah serta menerima wahyu dari langit. Kemudian dengarkanlah semua apa yang dikatakannya dan catatlah baik-baik ! Setelah itu, hendaklah kamu lekas kembali pulang kemari, dan beritakanlah kepadaku apa perkataan-perkataan dan pelajaran-pelajarannya !".

Baca selengkapnya »

Postingan Lebih Baru Postingan Lama

Den Ryono. Diberdayakan oleh Blogger.

Dan Janganlah Kamu Mengikuti Apa yang Kamu Tidak Mempunyai Pengetahuan Tentangnya (Ilmunya). Sesungguhnya Pendengaran, Penglihatan dan Hati, Semuanya itu akan diminta Pertanggungan Jawabnya. (QS. Al-Isra : 36)

Kutinggalkan Pada Kamu Sekalian 2 Perkara Yang Kamu Tidak Akan Sesat Apabila Kamu Berpegang Teguh Pada Keduanya, Yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya [[HR. Malik Dalam Al-Muwaththa' Juz 2 Hal 899]]