Selamat Datang di Situs Resmi "Belajar Al Qur'an & As Sunnah"

Sholat Jum'at 3

Fadlilah Hari Jum’at

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: نَحْنُ اْلآخِرُوْنَ السَّابِقُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ بَيْدَ اَنَّهُمْ اُوْتُوا اْلكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا ثُمَّ هذَا يَوْمُهُمُ الَّذِيْ فُرِضَ عَلَيْهِمْ فَاخْتَلَفُوْا فِيْهِ، فَهَدَانَا اللهُ فَالنَّاسُ لَنَا فِيْهِ تَبَعٌ الْيَهُوْدُ غَدًا وَ النَّصَارَى بَعْدَ غَدٍ. البخارى 1: 212
Dari Abu Hurairah RA bahwasanya dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Kita adalah orang-orang yang datang akhir, tetapi mendahului pada hari qiyamat. Hanyasaja mereka diberi kitab sebelum kita. Kemudian ini (hari Jum’at) adalah hari yang ditetapkan kepada mereka, tetapi mereka berselisih padanya. Kemudian Allah menunjuki kita. Maka orang-orang mengikuti kita, orang-orang Yahudi besoknya, dan orang-orang Nashrani besoknya lagi”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 212]

Baca selengkapnya »

Sholat Safar 1

Pengertian Safar.

As-Safar, yaitu bepergian dari satu tempat iqamah (tempat menetap/ tempat tinggal baik kota atau desa) ke suatu tempat di luar daerah iqamahnya, baik dengan tujuan yang bersifat ukhrawiy (berhajji, tabligh dsb) maupun yang bersifat duniawiy (berdagang, duta suatu negara dll).
Orang yang mengerjakan safar disebut Musafir, kebalikan dari musafir adalah Muqim, yaitu orang yang berada di tempat iqamahnya, artinya : menetap dan bertempat tinggal di suatu tempat diantara anak-istri atau sanak keluarganya.
Maka seseorang baru boleh dikatakan sebagai musafir bila dia pergi dengan memenuhi ketentuan-ketentuan yang disebut safar di atas. Sedang jika ia hanya sekedar kaluar atau pergi dari rumah/kampung dan tidak memenuhi ketentuan di atas dalam bahasa ‘Arab orang tersebut bukan dikatakan musafir, dan masih termasuk orang muqim.

Baca selengkapnya »

Sholat Safar 2

Shalat Jama’ dengan satu adzan dan dua iqamah.

عَنْ جَابِرٍ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص صَلَّى الصَّلاَتَيْنِ بِعَرَفَةَ بِاَذَانٍ وَاحِدٍ وَ اِقَامَتَيْنِ. وَ اَتَى اْلمُزْدَلِفَةَ، فَصَلَّى بِهَا اْلمَغْرِبَ وَ اْلعِشَاءَ بِاَذَانٍ وَاحِدٍ وَ اِقَامَتَيْنِ، وَ لَمْ يُسَبّحْ بَيْنَهُمَا، ثُمَّ اضْطَجَعَ حَتَّى طَلَعَ اْلفَجْرُ. مختصر لاحمد و مسلم و النسائى، فى نيل الاوطار 3: 248
Dari Jabir RA bahwasanya Nabi SAW shalat jama’ di ‘Arafah dengan satu adzan dan dua iqamah. Dan datang ke Muzdalifah, lalu shalat Maghrib dan’Isyak dengan satu adzan dan dua iqamah, dan tidak shalat sunnah diantara keduanya, kemudian tidur hingga terbit fajar. [Diringkas dari riwayat Ahmad, Muslim dan Nasaiy, dalam Nailul Authar juz 3, hal. 248]

Baca selengkapnya »

Sholat Sunnah 1

Dalil adanya shalat sunnah

جَاءَ اَعْرَابِيٌّ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا ذَا فَرَضَ اللهُ عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ؟ قَالَ: اَلصَّلَوَاتُ اْلخَمْسُ اِلاَّ اَنْ تَطَوَّعَ  شَيْئًا. البخاري و مسلم
Telah datang seorang Arab gunung, lalu ia berkata, “Ya Rasulullah, shalat apa yang difardlukan oleh Allah atas saya ?”. Jawab Rasulullah SAW, “Shalat lima waktu, kecuali kalau engkau mau shalat sunnah”. [HSR. Bukhari dan Muslim]

Baca selengkapnya »

Sholat Sunnah 2

C. Shalat sunnah tahiyyatul masjid

Shalat Sunnah Tahiyyatul Masjid ialah : Istilah yang diberikan bagi shalat sunnah ketika memasuki sebuah masjid/musholla/langgar dan dikerjakan sebelum duduk.

Cara pelaksanaannya :
Dua raka'at dan dengan bacaan sirr (Ttidak nyaring)
Dalil pelaksanaannya :
عَنْ اَبِى قَتَادَةَ رض قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص اِذَا دَخَلَ اَحَدُكُمُ اْلمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلّيَ رَكْعَتَيْنِ. البخارى
Dari Abu Qatadah RA, ia berkata : Nabi SAW bersabda, “Apabila seseorang diantara kalian masuk masjid, maka janganlah ia duduk sebelum shalat dua raka'at”. [HSR. Bukhari juz 2, hal. 51]

Baca selengkapnya »

Sholat Sunnah 3

G. Shalat sunnah Dluha

Shalat sunnah Dluha ialah : Istilah yang diberikan untuk shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu Dluha.

Bilangan raka'at dan cara pelaksanaannya :
 -   Dua raka'at hingga delapan raka'at (dua raka'at lalu salam, dua raka'at lalu salam dan seterusnya)
 -   Dengan suara sirr (suara lembut).

Dalil-dalil pelaksanaan :
قَالَ اَبُوْ هُرَيْرَةَ: اَوْصَانِى خَلِيْلِى ص بِثَلاَثٍ: صِيَامِ ثَلاَثَةِ اَيَّامٍ مِنْ كُلّ شَهْرٍ وَ رَكْعَتَيِ الضُّحَى وَ اَنْ اُوْتِرَ قَبْلَ اَنْ اَنَامَ. البخارى
Telah berkata Abu Hurairah, “Kekasih saya (Nabi Muhammad SAW) telah berwashiyat kepada saya dengan tiga perkara yaitu : 1. Puasa tiga hari tiap-tiap bulan. 2. Shalat Dluha dua raka'at, dan 3. Shalat witir sebelum tidur”. [HSR. Bukhari juz 2, hal. 247]

Baca selengkapnya »

Sholat Sunnah 4


K. Shalat sunnah Kusuf/shalat sunnah Khusuf.

Kusuf/Khusuf ialah istilah yang diberikan untuk shalat sunnah di waktu terjadi gerhana matahari maupun gerhana bulan.

Bilangan raka'at dan cara pelaksanaannya :
-    Shalat kusuf/khusuf ini utamanya dilaksanakan di masjid secara berjama'ah dan dengan khutbah sesudah shalat.
-    Shalat gerhana ini tanpa adzan dan iqamah; tetapi hanya panggilan, misalnya "Ash-Sholaatu Jaami'ah" (Mari kita berkumpul untuk shalat)
-    Shalat sunnah ini dikerjakan sebanyak 2 raka'at dengan bacaan jahr.
-    Pada tiap-tiap raka'at mengandung 2 ruku' dan 2 sujud dengan cara sebagai berikut :

Baca selengkapnya »

Postingan Lebih Baru Postingan Lama

Den Ryono. Diberdayakan oleh Blogger.

Dan Janganlah Kamu Mengikuti Apa yang Kamu Tidak Mempunyai Pengetahuan Tentangnya (Ilmunya). Sesungguhnya Pendengaran, Penglihatan dan Hati, Semuanya itu akan diminta Pertanggungan Jawabnya. (QS. Al-Isra : 36)

Kutinggalkan Pada Kamu Sekalian 2 Perkara Yang Kamu Tidak Akan Sesat Apabila Kamu Berpegang Teguh Pada Keduanya, Yaitu : Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya [[HR. Malik Dalam Al-Muwaththa' Juz 2 Hal 899]]